Siswi SMK Yang Hanyut di Kakek Bodo Akhirnya di Temukan
Belum luntur ingatan tentang peristiwa wisatawan hanyut di sungai Kebun Raya Purwodadi, peristiwa serupa kembali terjadi kemarin (28/11). Kali ini lokasinya di obyek wisata Kakek Bodo, Prigen. Yang menjadi korbannya adalah Ayu Agus Purwati, 16, asal Sidoarjo.
Puluhan petugas dari tim SAR, Tagana (Taruna Siaga Bencana) masih melakukan pencarian korban. Hingga pukul 18.30 kemarin, tubuh pelajar SMK Dirgantara, Buduran, Siodoarjo itu belum juga ditemukan.
Berdasar informasi yang dihimpun koran ini, korban masuk ke obyek wisata andalan di Prigen itu sekitar pukul 13. 00. Saat itu, ia tidak sendirian. Ikut bersamanya, tujuh orang rekannya juga satu sekolah. Selama beberapa saat, mereka tampak asyik menikmati suasana di obyek wisata tersebut.
Saking asyiknya, mereka sama sekali tak memperhitungkan cuaca sekitar. Padahal, saat itu, cuaca di sekitar Prigen terlihat cukup mendung. Terutama di daerah hulu air terjun (daerah Gunung Welirang). Kondisi itu memungkinkan terjadinya air bah yang datang sewaktu-waktu.
Sekitar pukul 13. 30, daerah hulu pun mulai di guyur hujan. Bahkan, rintik-rintik air juga mulai turun di sekitar Kakek Bodo. Melihat itu, beberapa petugas dari pengelola obyek wisata itu pun mencoba mengingatkan. Hal itu untuk mencegah kemungkinan terburuk akibat air bah yang dimungkinkan terjadi sewaktu-waktu.
Empat rekan korban kemudian menepi. Tapi terlambat. Saat itu, korban bersama ketiga temanya masih berada di titik jatuhnya air terjun (undercut). Sekitar pukul 14. 00., peristiwa itu akhirnya terjadi. Air bah dari arah atas air terjun dengan warnanya yang hitam pekat pun tiba-tiba datang.
Nahas bagi korban. Saat ketiga rekannya berhasil menyelamatkan diri, korban yang saat itu mengenakan celana pendek dan kaus itu terhanyut. Beberapa rekan korban berteriak. Upaya mereka untuk memberi pertolongan korban tak membuahkan hasil. “Mereka sempat menarik, tapi tak berhasil,” kata Lurah Prigen Kasno kemarin.
Melihat rekannya terus terhanyut, beberapa rekan korban kemudian melaporkan kejadian itu ke petugas setempat untuk diteruskan ke Mapolsek Prigen. Yang kemudian langsung menuju lokasi kejadian. Disusul camat Prigen Suhartono, serta beberapa petugas dari elemen lain.
Berikutnya, beberapa petugas dari tim SAR Pecalukan, Tagana, Mahameru, Koramil, pun tiba di lokasi kejadian. Dengan dibantu warga, mereka melakukan pencarian tubuh korban.
Kapolsek Prigen AKP. Suyadi yang ditemui di lokasi kejadian menyatakan, peristiwa yang terjadi kemarin berlangsung sangat cepat. Dengan ketinggian air mencapai satu meter lebih. “Kami coba fokuskan di celah-celah batu,” kata Kapolsek di sela proses pencarian itu.
Sementara itu, selain menyisir daerah aliran sungai (DAS), upaya pencarian juga dilakukan di dam dirgantara, yang berjarak sekitar 700 meter dari lokasi kejadian. Untuk memudahkan proses pencarian, petugas juga membuka pintu air dam tersebut.
Ketua Tagana Kabupaten Pasuruan Waluyo Utomo memperikirakan korban masih berada di sekitar lokasi kejadian. Karena itu, dibukanya pintu air dam tersebut diharapkan bisa membantu proses pencarian tersebut. “Mudahan-mudahan saja begitu. Sebab, karena ini masih baru, biasanya tenggelam,” katanya. (jawapos.com)
Siswi SMK Hanyut Ditemukan 2 KM Dari Kakek Bodo
Pencarian terhadap Ayu Agus Purwati, 16, wisatawan Kakek Bodo yang hanyut pada Sabtu (28/11), akhirnya berhasil. Selang sembilan jam sejak terseret air bah Kakek Bodo, korban akhirnya ditemukan. Tepatnya sekitar pukul 22.30 WIB.
Siswi SMK Antartika, Buduran, Kabupaten Sidoarjo itu ditemukan tewas sekitar 30 meter dari undercut (titik jatuhnya air terjun) air terjun Putuk Truno. Atau sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian, yakni undercut air terjun Kakek Bodo.
Korban ditemukan dalam kondisi telanjang. Sementara tubuhnya terlentang seperti orang tidur dengan lengan di atas kening.
Penemukan korban itu sendiri diluar dugaan, yang karena lebih cepat dari perkiraan. Padahal beberapa saat sebelumya, petugas tim SAR (search and rescue) berencana menyisir daerah DAM Dirgantara. Namun sebelum itu dilakukan, diperoleh kabar bahwa putri pertama dari dua bersaudara itu sudah ditemukan.
Masud petugas tim SAR menyatakan, korban ditemukan oleh Kariani, warga sekitar yang membantu proses pencarian. “Dia kelihatan timbul tenggelam di sekitar undercut Putuk Truno,” ujarnya. Informasi tersebut kemudian disampaikan ke Mapolsek Prigen.
Terkait tubuh korban yang ditemukan dalam kondisi telanjang, menurutnya itu diakibatkan oleh derasnya arus yang menyeret tubuh korban. “Itu biasa terjadi pada peristiwa seperti ini, karena tersangkut ranting,” jelasnya didampingi Sohib, petugas tim SAR lainnya.
Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, peristiwa itu bermula saat Ayu bersama tujuh temannya berwisata di air terjun Kakek Bodo, Sabtu (28/11). Ketujuh rekan korban adalah Bahrul Ulum, 17; Deni Dwijoko, 17; Abdul Rosit Junaedi, 16; Dwi Prasetyo Adi, 16; Eka Putri, 16; Dian Puspita, 16 dan Ela Feni Veronika, 16.
Mereka asyik bermain di titik jatuhnya air. Padahal, saat itu hujan deras melanda kawasan hulu air terjun. Selang setengah jam kemudian, aliran air terjun pun mendadak besar. Hingga, menerpa rekan-rekan korban. Tujuh rekan korban berhasil selamat. Sementara korban terseret air bah dan tak bisa diselamatkan.
Proses pencarian korban melibatkan Polsek Prigen, Tagana, SAR Mahameru, Gatapara, Kesbanglinmas. Warga setempat juga terlibat. Hingga akhirnya pencarian itu membuahkan hasil.
Sembilan jam setelah kejadian (korban terseret pukul 13.30 WIB), korban pun ditemukan. Sejumlah luka di dapati pada tubuh korban. Seperti kepala, lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Rata-rata mengalami luka lebam akibat benturan dengan bebatuan. Bahkan, pakaian korban juga lepas karena tersangkut dahan dan ranting-ranting pohon yang ada di sepanjang sungai. Selanjutnya dengan menggunakan ambulans, korban kemudian dibawa ke RSUD Bangil untuk divisum.
Sementara itu, ditemukannya Ayu dalam kondisi tewas membuat keluarganya berduka. Ditemui di kamar mayat RSUD Bangil Minggu dini hari lalu, Yaman, 45, ayah korban tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Bahkan, begitu plastik yang membungkus tubuh putrinya dibuka, Yaman langsung sesunggukan. Sesaat kemudian, ia terkulai lemas sebelum akhirnya dipapah anggota keluarganya. “Dia itu tidak pernah ke mana-mana,” ujar lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai tukang gali sumur itu.
Luapan emosi Yaman itu memang cukup dimaklumi. Sejak tiba di lokasi sekitar pukul 21.00 WIB, ia tidak banyak bicara. Meski tidak menangis, tatapan matanya lebih sering terlihat kosong. Karena itu, begitu menyaksikan jasad putrinya air matanya pun tak terbentung.
Yaman sendiri mengaku tak memiliki firasat apapun atas peristiwa yang menimpa putrinya itu. Apalagi, selama ini putri pertamanya itu dikenal pendiam dan tidak banyak tingkah. Karena itu, kepergian putrinya dengan cara mengenaskan itu cukup mengejutkan dirinya.
“Dia juga tidak pamit kalau mau jalan-jalan,” ujarnya. Meski begitu, dirinya mengaku telah mengikhlaskan kepergian putrinya itu.
Sementara itu penanggung jawab pelaksana Kakek Bodo Wardiono tidak banyak memberikan keterangan terkait peristiwa ini. Saat dikonfirmasi ketika mengantar jenazah korban ke rumah sakit, dia lebih banyak diam. Begitu juga saat disinggung soal pemberian asuransi korban, ia hanya mengangguk. (jawapos.com)
Link Terkait :
www.jawapos.com
http://pasuruan.info/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1331
http://pasuruan.info/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1332


